Guru Besar UGM Sebut Keluarga Berpenghasilan Rendah Lebih Sering Konsumsi Pangan Nabati

Kamis, 20 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

VOJ – Produk peternakan menjadi salah satu sumber protein penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Namun, penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga dengan penghasilan rendah cenderung lebih banyak mengonsumsi pangan nabati dan makanan bertepung dibandingkan produk hewani yang memiliki nilai gizi tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh Prof. Ir. Mujtahidah Anggriani Ummul Muzayyanah, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ekonomi Keperilakuan Produk Peternakan di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara berlangsung pada Selasa (18/2/2025) di Ruang Balai Senat, Gedung Pusat UGM.

Dalam pidatonya yang berjudul “Transformasi Perilaku Konsumsi Pangan Produk Peternakan Dalam Perspektif Ekonomi Malnutrisi”, Mujtahidah menyoroti kecenderungan rumah tangga berpenghasilan rendah dalam memilih makanan. “Sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa rumah tangga kelompok ini harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan dasar,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia juga menyoroti rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia yang berdampak pada kualitas gizi balita dan anak-anak. Kondisi ini, menurutnya, bisa mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. “Di saat yang sama, rumah tangga berpenghasilan rendah sulit mengakses susu maupun pangan hewani bernilai tinggi lainnya, seperti daging dan produk olahan susu,” tambahnya.

Menurut Mujtahidah, rendahnya konsumsi protein hewani erat kaitannya dengan kondisi ekonomi masyarakat. Harga pangan hewani yang tinggi membuat banyak orang memilih alternatif dengan kualitas yang lebih rendah. Telur menjadi sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi di daerah pedesaan miskin.

“Keputusan konsumen dalam memilih pangan didasarkan pada faktor pendapatan, harga, dan preferensi yang menentukan tingkat permintaan pangan,” ujarnya. “Asupan makanan dan status gizi yang terkait dengan pembangunan ekonomi didorong oleh interaksi harga dan pendapatan dengan inovasi dalam produksi, distribusi, dan pemasaran pangan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Mudik ke Turen? Ini 7 Rekomendasi Cafe Hits untuk Bukber & Halal Bihalal Lebaran 2026
Akhir Tahun Makin Seru, Kakkoii Tancap Gas Lewat Promo “KESAMBER”
Tak Mau Ribet Christmas Dinner, Kakkoii All You Can Eat Jadi Incaran Jelang Natal
’10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat’, Tepat Sasaran Momok Malnutrisi Keluarga & Tekanan Ibu Rumah Tangga
Pandawa: Rasa Nusantara yang Berkibar di Langit Sydney
Usulan Pendidikan Gizi Masuk Kurikulum, Pakar Unair Soroti Pentingnya Literasi Nutrisi Sejak Dini
Niscala Female Livin, Hunian Eksklusif Perempuan Pertama di Malang Resmi Diperkenalkan
Uang Terbakar? Tenang, Bank Indonesia Siap Ganti Lewat Layanan PINTAR

Berita Terkait

Kamis, 12 Maret 2026 - 01:58 WIB

Mudik ke Turen? Ini 7 Rekomendasi Cafe Hits untuk Bukber & Halal Bihalal Lebaran 2026

Selasa, 23 Desember 2025 - 18:16 WIB

Akhir Tahun Makin Seru, Kakkoii Tancap Gas Lewat Promo “KESAMBER”

Selasa, 23 Desember 2025 - 18:08 WIB

Tak Mau Ribet Christmas Dinner, Kakkoii All You Can Eat Jadi Incaran Jelang Natal

Sabtu, 22 November 2025 - 03:31 WIB

’10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat’, Tepat Sasaran Momok Malnutrisi Keluarga & Tekanan Ibu Rumah Tangga

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 04:56 WIB

Pandawa: Rasa Nusantara yang Berkibar di Langit Sydney

Senin, 28 Juli 2025 - 08:13 WIB

Usulan Pendidikan Gizi Masuk Kurikulum, Pakar Unair Soroti Pentingnya Literasi Nutrisi Sejak Dini

Rabu, 23 Juli 2025 - 02:58 WIB

Niscala Female Livin, Hunian Eksklusif Perempuan Pertama di Malang Resmi Diperkenalkan

Rabu, 9 Juli 2025 - 02:00 WIB

Uang Terbakar? Tenang, Bank Indonesia Siap Ganti Lewat Layanan PINTAR

Berita Terbaru