’10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat’, Tepat Sasaran Momok Malnutrisi Keluarga & Tekanan Ibu Rumah Tangga

Sabtu, 22 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gambar (VOJ)

Ilustrasi gambar (VOJ)

Oleh: Yohanes A., Dian N., Syifa K., Zhifora A., Salwa M

VOICEOFJATIM – Beberapa bulan lalu dunia TikTok sempat digemparkan oleh seorang pengguna yang viral karena membagikan video kesehariannya dengan nafkah 10 ribu saja. Pernyataan bahwa uang 10 ribu dapat mencukupi kebutuhan keluarga untuk sehari mendapat banyak respon geram dari warganet. Di balik respon berupa stitch dan komentar tajam, sebenarnya tersimpan ancaman stereotip gender yang menekan perempuan sekaligus menimbulkan risiko serius bagi pemenuhan gizi keluarga.

Seperti Apa Tren “10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat”?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah akun TikTok mendapat atensi dan viral belakangan ini akibat opening video yang mengatakan, “Dikasih uang belanja cuma 10 ribu per hari dan masih bisa menabung sudah bisa disebut istri yang tepat belum ya?”

Konten selanjutnya menampilkan aktivitas memasak dengan bahan seadanya dan minim gizi. Pada beberapa video, pemilik akun juga menyebutkan bahwa ia tengah hamil dan menerima PMT (Pemberian Makanan Tambahan), sebuah program untuk ibu hamil dengan gizi kurang dan berisiko stunting. Ia juga menyatakan bahwa suaminya merupakan perokok aktif, yang mana harga rokok lebih mahal daripada uang belanja yang ia jadikan konten “10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat”.

Hal ini memicu banyak reaksi dari warga TikTok. Di saat pemilik akun menerima PMT dan suaminya memberi uang belanja lebih sedikit daripada uang rokok, ia justru merasa dirinya sudah menjadi “istri yang tepat”. Warganet lalu ramai membandingkan kondisi mereka:

“Aku yang per harinya 100–200 ribu kadang nggak cukup.”

“Jajan anak SD aja 25 ribu per hari.”

“Kalau 10 ribu cukup di tangan istri yang tepat, terus aku istri apaan?”

Seorang pengguna lain membagikan kisah serupa dan dampaknya:
“Waktu hamil 2016 Sy kurang gizi, suami buat beli rokok ada duitnya, buat sy makan 50rb 3 hari, lahir anak premature & tumbuh besar ADHD.”

Komentar tersebut semakin membuat warganet geram sekaligus khawatir dengan kondisi kehamilan pemilik akun TikTok yang mengunggah tren ini.

Bagaimana Respon Publik?

Sejumlah warganet, khususnya sesama wanita, merasa tidak relate dengan pernyataan tersebut. Banyak yang menilai suami pemilik akun sebagai lelaki mokondo yang hanya bermodalkan cinta tanpa usaha memenuhi gizi keluarga secara layak.

Beberapa selebgram TikTok juga mengomentari betapa mustahilnya hidup di zaman yang serba mahal hanya dengan 10 ribu per hari, apalagi untuk keluarga beranggotakan tiga orang.

“Kalau di gue uang 10 ribu cuma dapet beras seliter, belum lagi anak berhentiin kang somay depan, belum lagi mertua minta dibayarin COD gamisnya. Uang sepuluh ribu per hari tuh gak cukup,” ucap salah satu selebgram dengan nada ketus.

Namun, tren ini justru menjadi tantangan bagi sebagian ibu-ibu yang mencoba membuktikan bahwa 10 ribu bisa cukup. Nyatanya, banyak yang gagal atau berakhir menjadikan tren ini sebagai konten komedi karena tertekan harus mencukup-cukupkan uang sambil menahan kebutuhan lain.

Kabar buruknya, banyak laki-laki, bahkan suami yang sudah menikah, ikut terpengaruh dan beranggapan bahwa istrinya boros jika menghabiskan uang lebih dari 10 ribu. Meski ada juga suami yang realistis dan menghargai kerja keras istrinya, tetap saja tren ini menimbulkan tekanan tambahan bagi perempuan dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Apakah Benar-benar Bikin Malnutrisi?

Bentuk malnutrisi yang terlihat sejauh ini justru tampak dari pemilik akun TikTok sendiri, yang pada usia kehamilan cukup tua masih menerima PMT, bantuan khusus untuk ibu hamil dengan gizi kurang hingga buruk.

Tren ini secara tidak langsung menormalisasi keterbatasan gizi sebagai “ketangguhan perempuan”, padahal justru menjadi alarm adanya kurangnya edukasi pencegahan malnutrisi dan minimnya upaya pemenuhan gizi keluarga. Meski demikian, belum ada laporan eksplisit yang menyebutkan adanya korban malnutrisi akibat meniru konten tersebut.

Persepsi Gender & Beban Berat IRT

Di balik narasi “istri yang tepat”, tersimpan stereotip gender yang menekan perempuan. Ibu rumah tangga dituntut mampu menyulap keterbatasan menjadi kecukupan, seolah-olah kesejahteraan keluarga sepenuhnya bergantung pada kecerdikan perempuan dalam mengatur uang belanja.

Seorang pengguna TikTok menulis:
“Ngasih duit dikit kalo ga cukup bini yang disalahin, ntar dicukup-cukupin terus anaknya kecil kurus kena semprot ama mertua, repot dah repot.”

Dalam budaya patriarki yang kuat di banyak masyarakat, termasuk Indonesia, perempuan ditempatkan sebagai pengatur domestik: mereka harus sabar, hemat, dan bisa menyulap kekurangan. Ekspektasi sosial ini melahirkan pandangan bahwa perempuan yang baik adalah yang mampu mengatur keuangan dengan efisien, padahal peran kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan juga sangat krusial.

Tren ini menunjukkan bahwa isu gizi keluarga tidak dapat dipisahkan dari konstruksi sosial peran gender. Mengatasi malnutrisi berarti sekaligus mengatasi ketidakadilan gender. Respon kritis warganet menjadi langkah penting untuk mencegah normalisasi stereotip destruktif semacam ini.

Akhirnya

Jadi, apakah kita akan terus mengagungkan “10 Ribu di Tangan Istri yang Tepat”?
Atau mulai menuntut kesetaraan dan pemenuhan gizi yang layak?

Yuk, pikirkan lagi sebelum ikut tren.

Berita Terkait

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim
Akhir Damai Polemik Wendit, Vendor Pastikan Pembayaran Telah Diselesaikan
Tuan Rumah Pangkalan Militer AS Dapat Ultimatum dari Iran
The Souls Kembali Beroperasi Saat Sekolah Al-Kautsar Menanti Kepastian Hearing
Golkar Dorong Kolaborasi DPRD dan Pemkot Malang Demi Kesejahteraan Warga
Manajemen Baru New Wisata Wendit Inventarisir Aset, Siapkan Pertemuan dengan Vendor
Pakar Ingatkan, Ucapan PTN dengan Foto Tanpa Izin Pertaruhkan Integritas dan Berpotensi Digugat
Usai Angkat Kasus Air Keras Andri Yunus, Ketum Badko HMI Sumut Sebut Alami Teror dan Intimidasi

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 22:49 WIB

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim

Minggu, 5 April 2026 - 14:01 WIB

Akhir Damai Polemik Wendit, Vendor Pastikan Pembayaran Telah Diselesaikan

Sabtu, 4 April 2026 - 22:39 WIB

Tuan Rumah Pangkalan Militer AS Dapat Ultimatum dari Iran

Sabtu, 4 April 2026 - 17:33 WIB

The Souls Kembali Beroperasi Saat Sekolah Al-Kautsar Menanti Kepastian Hearing

Kamis, 2 April 2026 - 17:14 WIB

Golkar Dorong Kolaborasi DPRD dan Pemkot Malang Demi Kesejahteraan Warga

Kamis, 2 April 2026 - 17:04 WIB

Manajemen Baru New Wisata Wendit Inventarisir Aset, Siapkan Pertemuan dengan Vendor

Kamis, 2 April 2026 - 12:27 WIB

Pakar Ingatkan, Ucapan PTN dengan Foto Tanpa Izin Pertaruhkan Integritas dan Berpotensi Digugat

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:12 WIB

Usai Angkat Kasus Air Keras Andri Yunus, Ketum Badko HMI Sumut Sebut Alami Teror dan Intimidasi

Berita Terbaru