Tradisi Sambut Ramadan di Jawa Timur, dari Megengan hingga Pawai Obor

Jumat, 28 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tradisi Megengan. (Dok Antara)

Tradisi Megengan. (Dok Antara)

VOJ – Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa Timur memiliki berbagai tradisi khas yang masih lestari hingga kini. Dari Megengan hingga Pawai Obor, setiap daerah punya cara unik dalam menyambut bulan suci ini.

Salah satu tradisi yang paling umum adalah Megengan, yang berasal dari kata “megeng” atau menahan. Tradisi ini dilakukan dengan menggelar selamatan dan berbagi kue apem sebagai simbol permohonan maaf. Biasanya, masyarakat berkumpul bersama keluarga dan tetangga untuk berdoa dan mengirimkan doa kepada leluhur.

Di daerah seperti Ponorogo, Madiun, dan Magetan, terdapat tradisi Padusan, yaitu ritual mandi besar di sumber mata air, sungai, atau masjid. Ritual ini melambangkan penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa. Beberapa lokasi yang sering dijadikan tempat padusan adalah Sendang Kamulyan di Ponorogo, Sumber Taman di Madiun, dan Telaga Wahyu di Magetan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Surabaya, Malang, dan beberapa daerah lainnya, masyarakat juga menggelar Pawai Obor sebagai simbol penerangan hati dalam menyambut Ramadan. Pawai ini biasanya dilakukan pada malam hari dengan peserta membawa obor sambil melantunkan selawat.

Sementara itu, di kawasan pesisir seperti Gresik, Lamongan, dan Tuban, ada tradisi Nyadran, yaitu ritual ziarah kubur dan doa bersama untuk para leluhur. Biasanya, warga membawa tumpeng dan makanan yang kemudian dibagikan kepada tetangga dan masyarakat sekitar.

Setiap daerah di Jawa Timur memiliki cara tersendiri dalam menyambut Ramadan. Tradisi-tradisi ini bukan hanya sekadar budaya, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Berita Terkait

Manajemen Baru New Wisata Wendit Inventarisir Aset, Siapkan Pertemuan dengan Vendor
Mudik ke Turen? Ini 7 Rekomendasi Cafe Hits untuk Bukber & Halal Bihalal Lebaran 2026
Semar Tempoe Doeloe Jilid 2 Kembali Hadir, Warga Arjosari Siap Gelar Festival Bernuansa Jadul
Makin Fleksibel, KAI Izinkan Beli Tiket Kereta Sampai 10 Menit Sebelum Berangkat
Fatwa MUI Soal Sound Horeg Masih Dikaji, Penggunaan untuk Hura-Hura Bisa Diharamkan
Disparbud Kabupaten Malang Dorong Ekraf Lewat Pendataan dan Festival Kreatif
Terumbu Karang Seluas 10 Hektare di Pasir Putih Situbondo Rusak, Diduga Akibat Limbah Kaporit
Ngopi Sambil Menelusuri Bunker Kolonial di Café Gedong Ijen Malang

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 17:04 WIB

Manajemen Baru New Wisata Wendit Inventarisir Aset, Siapkan Pertemuan dengan Vendor

Kamis, 12 Maret 2026 - 01:58 WIB

Mudik ke Turen? Ini 7 Rekomendasi Cafe Hits untuk Bukber & Halal Bihalal Lebaran 2026

Senin, 21 Juli 2025 - 02:21 WIB

Semar Tempoe Doeloe Jilid 2 Kembali Hadir, Warga Arjosari Siap Gelar Festival Bernuansa Jadul

Jumat, 11 Juli 2025 - 08:52 WIB

Makin Fleksibel, KAI Izinkan Beli Tiket Kereta Sampai 10 Menit Sebelum Berangkat

Sabtu, 5 Juli 2025 - 16:28 WIB

Fatwa MUI Soal Sound Horeg Masih Dikaji, Penggunaan untuk Hura-Hura Bisa Diharamkan

Kamis, 19 Juni 2025 - 16:26 WIB

Disparbud Kabupaten Malang Dorong Ekraf Lewat Pendataan dan Festival Kreatif

Rabu, 18 Juni 2025 - 01:59 WIB

Terumbu Karang Seluas 10 Hektare di Pasir Putih Situbondo Rusak, Diduga Akibat Limbah Kaporit

Senin, 19 Mei 2025 - 00:06 WIB

Ngopi Sambil Menelusuri Bunker Kolonial di Café Gedong Ijen Malang

Berita Terbaru