Santri Pesantren di Malang Dibekali Ilmu Kelola Sampah Berkelanjutan demi Lingkungan Lebih Bersih

Rabu, 2 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG, hukumindonesia.online/ – Persoalan sampah masih menjadi momok besar bagi Kota Malang seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan geliat ekonomi yang kian pesat. Data terbaru menunjukkan volume sampah harian di kota ini terus meningkat, menuntut pembaruan sistem pengelolaan dan sarana pemrosesan sampah yang lebih memadai.

Pemerintah Kota Malang sendiri tak tinggal diam. Selain membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), pemkot juga tengah merampungkan revitalisasi tujuh Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di berbagai titik kota demi memperbaiki efektivitas manajemen sampah. Langkah ini diyakini mampu menekan penumpukan sampah dan menjaga kualitas lingkungan perkotaan.

Meski demikian, persoalan terbesar justru datang dari kesadaran masyarakat. Walau telah ada Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah, faktanya masih banyak warga yang belum terbiasa memilah sampah sejak dari rumah atau membuangnya sesuai tempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berangkat dari kondisi itu, sekelompok dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Tim pengabdian masyarakat ini terdiri dari Tri Hendra Wahyudi sebagai ketua, bersama dua anggota, Romel Masykuri dan Fajar Shodiq Ramadlan. Kali ini, sasaran mereka adalah para santri serta pengurus pondok pesantren di Kota Malang.

Program ini merupakan kolaborasi FISIP Universitas Brawijaya dengan Lakpesdam PCNU Kota Malang, Pondok Pesantren Al-Hikam, serta komunitas pegiat lingkungan iLitterless Indonesia. Sebanyak 30 peserta dari berbagai pondok pesantren hadir mengikuti pelatihan yang berlangsung pada Selasa (1/7/2025) di Perpustakaan Pondok Pesantren Al-Hikam, Lowokwaru, Kota Malang.

Ketua pelaksana kegiatan, Tri Hendra Wahyudi, mengungkapkan, “Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dan keterampilan praktis kepada para santri tentang bagaimana mengelola sampah secara berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomis. Harapannya, tidak sekadar meningkatkan kesadaran, tetapi juga agar santri mampu menerapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif di lingkungan pondok masing-masing.”

Selain bermanfaat langsung bagi pesantren yang terlibat, program ini juga diharapkan dapat memicu lahirnya praktik-praktik pengelolaan sampah terbaik yang bisa diadopsi oleh lembaga pendidikan lain di Kota Malang.

Ustadz Nurcholis, salah satu pengurus Pondok Pesantren Al-Hikam, sangat mengapresiasi pelatihan ini. Ia menilai langkah tersebut penting karena menjadi jembatan kerja sama antara lembaga pendidikan dan komunitas sosial dalam mengatasi persoalan lingkungan di pesantren.

Pelatihan diawali dengan materi dasar tentang urgensi pengelolaan sampah, yang disampaikan oleh Mayedha Adifirsta, Co-founder iLitterless Indonesia. Mayedha memaparkan, “Permasalahan kita selama ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah rumah tangga secara mandiri. Akibatnya, semua sampah terakumulasi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Dari total sampah yang dihasilkan, sekitar 60 persen berupa sampah organik, sedangkan 40 persen sisanya anorganik. Limbah ini menghasilkan gas metana yang merusak lapisan ozon, juga air lindi yang beracun dan meresap ke tanah, hingga mencemari sumber air minum kita. Itulah sebabnya pengelolaan sampah harus dimulai secara mandiri dari rumah.”

Pelatihan semakin interaktif ketika Zainul Ridwan, aktivis iLitterless Indonesia sekaligus alumnus pesantren, memandu simulasi pengelolaan sampah berbasis lingkungan pondok pesantren. Lewat metode partisipatif, peserta diajak mengidentifikasi berbagai jenis sampah yang ada di lingkungan sekitar, lalu merancang proyek pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di pondok masing-masing.

“Dengan simulasi seperti ini, harapannya para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan teknis yang bisa langsung dipraktikkan,” terang Zainul.

Lewat pelatihan ini, para santri tidak hanya dibekali ilmu, tetapi juga diharapkan menjadi agen perubahan dalam mewujudkan pesantren yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

Berita Terkait

Pakar Ingatkan, Ucapan PTN dengan Foto Tanpa Izin Pertaruhkan Integritas dan Berpotensi Digugat
Pesan Sosial Halal Bi Halal
Mahasiswa Vokasi UB Didorong Bermental Global, Alumni Ungkap Tantangan SDM Indonesia di Kancah Internasional
Rektor UIBU Dorong Tesis S2 Berbasis Metodologi Berdampak
Kampus Turun Tangan, PDKIK UB Tawarkan Solusi Hijau Limbah Penyamakan Kulit
Problematika Penggunaan Bahasa Gaul Pada Generasi Muda
Penguatan UMKM Pujon: Kolaborasi Vokasi UB yang Turun Langsung ke Akar Masalah
Gandeng LPBHNU dan LPPNU Kota Malang, Doktor MengabdI PERSADA DRPM UB dorong regulasi pro petani organik

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 12:27 WIB

Pakar Ingatkan, Ucapan PTN dengan Foto Tanpa Izin Pertaruhkan Integritas dan Berpotensi Digugat

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB

Pesan Sosial Halal Bi Halal

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:27 WIB

Mahasiswa Vokasi UB Didorong Bermental Global, Alumni Ungkap Tantangan SDM Indonesia di Kancah Internasional

Sabtu, 14 Februari 2026 - 12:02 WIB

Rektor UIBU Dorong Tesis S2 Berbasis Metodologi Berdampak

Senin, 15 Desember 2025 - 14:10 WIB

Kampus Turun Tangan, PDKIK UB Tawarkan Solusi Hijau Limbah Penyamakan Kulit

Rabu, 26 November 2025 - 17:25 WIB

Problematika Penggunaan Bahasa Gaul Pada Generasi Muda

Minggu, 26 Oktober 2025 - 14:17 WIB

Penguatan UMKM Pujon: Kolaborasi Vokasi UB yang Turun Langsung ke Akar Masalah

Kamis, 23 Oktober 2025 - 12:10 WIB

Gandeng LPBHNU dan LPPNU Kota Malang, Doktor MengabdI PERSADA DRPM UB dorong regulasi pro petani organik

Berita Terbaru