MSG vs Garam: Siapa yang Lebih Berbahaya Bagi Kesehatan?

Jumat, 11 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG, VOICEOFJATIM – MSG atau monosodium glutamat selama ini dicap buruk karena dianggap berbahaya bagi kesehatan. Namun, jika ditilik lebih dalam, garam dapur justru memiliki potensi risiko yang lebih tinggi terhadap tubuh bila dikonsumsi berlebihan.

MSG kerap jadi kambing hitam dalam perdebatan soal kesehatan makanan. Mulai dari dugaan penurunan fungsi otak hingga sindrom “Chinese Restaurant Syndrome” sering dilekatkan pada bahan penyedap satu ini. Sementara itu, garam dapur atau natrium klorida (NaCl) yang digunakan hampir di setiap masakan jarang sekali mendapat stigma serupa. Tapi, benarkah micin seburuk itu? Atau justru garam yang lebih layak diwaspadai?

Micin Mengandung Sodium Lebih Sedikit

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal penting yang perlu dicermati dari dua bahan ini adalah kandungan sodium atau natriumnya. Sodium berlebihan dalam tubuh berkaitan erat dengan tekanan darah tinggi, gangguan jantung, hingga risiko stroke.

Secara komposisi, MSG hanya mengandung sekitar 12,3 gram sodium per 100 gram. Angka ini jauh lebih rendah dibanding garam dapur yang mengandung hingga 39,3 gram sodium di jumlah yang sama. Artinya, kandungan natrium di dalam MSG hanya sepertiga dari yang ada pada garam.

Tak Hanya Lebih Rendah Sodium, Rasa Pun Tetap Terjaga

Sebuah penelitian yang dirilis dalam Journal of Food Science mengungkapkan bahwa masakan dengan kadar garam yang dikurangi hingga 60 persen tetap terasa lezat jika diberikan tambahan MSG. Bahkan, beberapa jenis makanan seperti quinoa bowl dan savory yogurt dip lebih disukai saat menggunakan MSG dibanding versi aslinya yang menggunakan garam penuh.

MSG bekerja dengan memperkuat rasa umami, menciptakan cita rasa gurih yang alami tanpa harus menambahkan banyak garam. Ini memberi solusi baru bagi para koki dan industri makanan dalam menjaga rasa sekaligus mengurangi dampak kesehatan dari konsumsi sodium yang berlebihan.

MSG Tidak Terbukti Berbahaya

Selama bertahun-tahun, banyak informasi simpang siur mengenai dampak negatif MSG. Namun, berbagai badan kesehatan dunia seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan MSG aman dikonsumsi dalam batas wajar.

Gejala seperti pusing atau rasa lelah usai mengonsumsi makanan ber-MSG yang dulu disebut sebagai “Chinese Restaurant Syndrome”, hingga kini belum pernah terbukti secara ilmiah sebagai efek konsisten dari MSG. Sementara itu, konsumsi garam berlebihan terbukti secara medis sebagai pemicu utama tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.

Micin Jadi Primadona Baru Industri Makanan

Industri makanan juga mulai beralih menggunakan MSG dalam kombinasi dengan senyawa lain seperti inosinat (IMP) dan guanilat (GMP). Kombinasi ini membantu menciptakan rasa yang lebih kaya dan kompleks, bahkan dapat memangkas kebutuhan akan bahan mahal seperti daging atau kaldu tanpa mengurangi kelezatan.

“Dengan pendekatan ini, produsen bisa menjaga biaya tetap efisien dan tetap menghadirkan rasa yang memuaskan,” tambah Diah Ayu.

Dalam jumlah konsumsi yang wajar, MSG terbukti memiliki kadar sodium lebih rendah, efektif dalam memperkuat rasa, dan tidak terbukti berbahaya. Sementara itu, garam dapur yang sering dianggap ‘aman’ justru memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih besar jika dikonsumsi berlebihan.

Melihat tren global yang kini semakin sadar terhadap pentingnya pembatasan sodium, sudah saatnya MSG dipahami secara lebih objektif. Menyalahkan micin sebagai biang kerok masalah kesehatan jelas tidak adil, karena faktanya, garam bisa menjadi musuh yang lebih senyap dalam dunia kuliner jika tidak digunakan secara bijak.

Berita Terkait

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim
Akhir Damai Polemik Wendit, Vendor Pastikan Pembayaran Telah Diselesaikan
Sopir Xenia Positif Sabu Tabrak 2 Pedagang Sayur hingga Tewas di Sidoarjo, Kronologi Kecelakaan Terungkap
Konten Promosi Pakai Video Almarhum Vidi Aldiano, Emy Aghnia Tuai Kecaman dan Sampaikan Permintaan Maaf
Friderica Widyasari Resmi Nahkodai OJK 2026-2031, Susunan Baru Dewan Komisioner Jadi Sorotan
Video Dugaan Oknum TNI Transaksi Narkoba di Berlan Jakarta Timur Viral saat Lebaran
Awas Penipuan Website Palsu Sovereign Bali Hotel Jelang Libur Lebaran
DPR Nilai Aturan Kolonial Tak Relevan, RUU Hukum Perdata Internasional Jadi Kebutuhan Mendesak

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 22:49 WIB

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim

Minggu, 5 April 2026 - 14:01 WIB

Akhir Damai Polemik Wendit, Vendor Pastikan Pembayaran Telah Diselesaikan

Sabtu, 28 Maret 2026 - 15:01 WIB

Sopir Xenia Positif Sabu Tabrak 2 Pedagang Sayur hingga Tewas di Sidoarjo, Kronologi Kecelakaan Terungkap

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:06 WIB

Konten Promosi Pakai Video Almarhum Vidi Aldiano, Emy Aghnia Tuai Kecaman dan Sampaikan Permintaan Maaf

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:58 WIB

Friderica Widyasari Resmi Nahkodai OJK 2026-2031, Susunan Baru Dewan Komisioner Jadi Sorotan

Senin, 23 Maret 2026 - 08:37 WIB

Video Dugaan Oknum TNI Transaksi Narkoba di Berlan Jakarta Timur Viral saat Lebaran

Minggu, 15 Maret 2026 - 04:36 WIB

Awas Penipuan Website Palsu Sovereign Bali Hotel Jelang Libur Lebaran

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:04 WIB

DPR Nilai Aturan Kolonial Tak Relevan, RUU Hukum Perdata Internasional Jadi Kebutuhan Mendesak

Berita Terbaru