Program Makan Gratis: Efektifkah Mengurangi Stunting di Indonesia?

Rabu, 15 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

VOJ – Program makan siang gratis yang digagas pemerintah untuk menekan angka stunting di Indonesia menjadi sorotan penting. Kendati demikian, efektivitas program ini tidak hanya bergantung pada jumlah makanan yang diberikan, melainkan juga pada kandungan gizi, pelaksanaan di lapangan, dan dukungan edukasi di tingkat keluarga. Hal ini diungkapkan oleh Dr. dr. Gita Sekar Prihanti, M.Pd.Ked., dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara makronutrien dan mikronutrien dalam makanan yang diberikan.

“Makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak harus diimbangi dengan mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Proporsi protein sangat penting, mengingat pola makan masyarakat Indonesia cenderung lebih fokus pada karbohidrat demi rasa kenyang. Meningkatkan asupan protein dan memastikan mikronutrien hadir dalam makanan adalah langkah krusial,” jelas Gita.

Edukasi Keluarga dan Tantangan Jangka Panjang

Dr. Gita menekankan bahwa program makan gratis tidak dapat berdiri sendiri sebagai solusi jangka panjang. Edukasi kesehatan di tingkat keluarga menjadi fondasi utama yang harus diperkuat. Banyak keluarga masih lebih memilih makanan berbasis karbohidrat murah tanpa mempertimbangkan kandungan gizinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Program makan bergizi itu penting, tapi tidak bisa menjadi satu-satunya andalan. Keluarga perlu diberdayakan agar paham pentingnya makanan sehat yang terjangkau. Jika tidak, anak-anak akan terus bergantung pada program makan gratis tanpa adanya perubahan pola pikir di rumah,” tambahnya.

Selain itu, ia menyoroti perlunya memperhatikan kebutuhan kalori anak yang bervariasi sesuai dengan berat badan dan usia. Kesalahan dalam menghitung kebutuhan kalori bisa berdampak buruk, seperti risiko obesitas atau kekurangan gizi. Periode emas 1.000 hari pertama kehidupan menjadi waktu yang sangat menentukan, meski tantangan pemenuhan gizi juga terus berlanjut hingga usia sekolah.

Higienitas Makanan dan Perubahan Pola Pikir

Dr. Gita juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan makanan sebagai bagian dari strategi pengurangan stunting. Jika higienitas diabaikan, risiko penyakit seperti diare dapat muncul dan justru memperburuk kondisi anak-anak yang sudah rentan.

“Selain kualitas gizi, higienitas makanan juga harus menjadi perhatian utama. Makanan yang tidak higienis bisa menimbulkan masalah baru yang memperparah kondisi stunting,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam mengonsumsi makanan. Mindful eating, yaitu kesadaran terhadap apa yang dimakan, kapan, dan bagaimana, perlu diajarkan sejak dini. Anak-anak harus diajarkan untuk lebih selektif terhadap makanan, karena makanan yang disukai belum tentu sehat.

“Mengubah mindset tentang makanan memang tantangan besar, tetapi ini sangat penting untuk masa depan mereka,” tutup Gita.

Kerja Sama Semua Pihak

Kesuksesan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kerja sama berbagai pihak, termasuk keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Dengan peng

Berita Terkait

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim
Akhir Damai Polemik Wendit, Vendor Pastikan Pembayaran Telah Diselesaikan
Sopir Xenia Positif Sabu Tabrak 2 Pedagang Sayur hingga Tewas di Sidoarjo, Kronologi Kecelakaan Terungkap
Konten Promosi Pakai Video Almarhum Vidi Aldiano, Emy Aghnia Tuai Kecaman dan Sampaikan Permintaan Maaf
Friderica Widyasari Resmi Nahkodai OJK 2026-2031, Susunan Baru Dewan Komisioner Jadi Sorotan
Video Dugaan Oknum TNI Transaksi Narkoba di Berlan Jakarta Timur Viral saat Lebaran
Awas Penipuan Website Palsu Sovereign Bali Hotel Jelang Libur Lebaran
DPR Nilai Aturan Kolonial Tak Relevan, RUU Hukum Perdata Internasional Jadi Kebutuhan Mendesak

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 22:49 WIB

Kombes Pol. R. Bagoes Wibisono Resmi Jabat Dirressiber Polda Metro Jaya, Jejaknya dari Madiun, Malang hingga Siber Jatim

Sabtu, 28 Maret 2026 - 15:01 WIB

Sopir Xenia Positif Sabu Tabrak 2 Pedagang Sayur hingga Tewas di Sidoarjo, Kronologi Kecelakaan Terungkap

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:06 WIB

Konten Promosi Pakai Video Almarhum Vidi Aldiano, Emy Aghnia Tuai Kecaman dan Sampaikan Permintaan Maaf

Kamis, 26 Maret 2026 - 14:58 WIB

Friderica Widyasari Resmi Nahkodai OJK 2026-2031, Susunan Baru Dewan Komisioner Jadi Sorotan

Senin, 23 Maret 2026 - 08:37 WIB

Video Dugaan Oknum TNI Transaksi Narkoba di Berlan Jakarta Timur Viral saat Lebaran

Minggu, 15 Maret 2026 - 04:36 WIB

Awas Penipuan Website Palsu Sovereign Bali Hotel Jelang Libur Lebaran

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:04 WIB

DPR Nilai Aturan Kolonial Tak Relevan, RUU Hukum Perdata Internasional Jadi Kebutuhan Mendesak

Minggu, 1 Februari 2026 - 18:28 WIB

Segel Kantor Dibuka, Golkar Kota Malang Mulai Babak Baru Usai Terbitnya SK Kepengurusan 2025–2030

Berita Terbaru