Ketika Topi Jerami Turun ke Jalan: Cerita di Balik Bendera One Piece yang Jadi Nafas Baru Aksi Gen Z

Sabtu, 15 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

One Piece, jadi simbol aktivisme Gen Z

One Piece, jadi simbol aktivisme Gen Z

 

hukumindonesia.online/ – Angin sore menyapu jalanan yang mulai padat. Di antara poster yang terangkat dan wajah-wajah muda yang merapat, satu benda langsung merebut perhatian: bendera hitam bertengkorak dengan topi jerami. Ia berkibar seolah memimpin gelombang langkah yang makin membesar.

Bukan simbol partai. Bukan lambang organisasi. Melainkan ikon dari dunia fiksi, One Piece, yang tiba-tiba menjelma jadi identitas sebuah gerakan sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di bawah bendera itu, ratusan anak muda bergerak seperti satu tubuh. Mereka tidak meledak-ledak, tetapi juga tidak tunduk. Begitulah wajah Gen Z: dibesarkan internet, dipertajam krisis, dan terus mengupayakan cara bicara baru di tengah zaman yang berubah terlalu cepat.

Pertemuan antara dunia nyata dan dunia impian

Bagi sebagian orang tua, bendera bajak laut cuma hiburan. Namun bagi mereka yang tumbuh bersama Luffy, si kapten yang selalu menantang ketidakadilan, simbol itu terasa lebih jujur daripada banyak pidato politik.

Fikri (22), seorang mahasiswa yang ikut turun ke aksi, tersenyum saat ditanya alasan membawa bendera itu.

“Luffy itu nggak sempurna,” katanya. “Tapi dia nggak diem kalau lihat yang nggak bener. Kayak kami sekarang.”

Saat realitas makin sulit dipercaya, justru tokoh fiksi memberi ruang kejujuran baru. Karena itu, mereka membawa simbol yang dulu hanya hidup di layar.

Dari meme, tumbuh menjadi solidaritas

Semua ini tidak lahir dari ruang rapat. Tidak ada manifesto tebal. Justru, gerakannya tumbuh dari timeline, dari meme, video 15 detik, hingga humor gelap yang sering kali lebih jujur daripada konferensi pers pejabat.

Awalnya cuma unggahan kocak: Luffy dengan caption “Kami tidak akan diam!”. Namun perlahan, meme itu berubah jadi simbol nyata. Ada yang nge-print, ada yang gambar ulang, ada yang tempel di kain bekas. Tanpa komando resmi, bendera itu muncul di banyak aksi lintas kota.

Estetiknya ringan. Maknanya berat. Dan hanya Gen Z yang bisa mencampurkan keduanya lalu membuatnya viral dalam semalam.

Bahasa baru generasi yang lelah tapi tetap jalan terus

Di pinggir trotoar, seorang perempuan muda mengangkat plakat karton bertuliskan:

“Kalau dunia ini arc yang busuk, mari tulis ulang ceritanya.”

Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi sebenarnya tidak. Gen Z hidup di tengah krisis iklim, harga yang naik terus, demokrasi yang rapuh, dan lembaga yang sulit dipercaya. Meskipun begitu, mereka tetap bergerak. Karena itu, simbol fiksi menjadi bahasa perlawanan yang terasa lebih dekat dan lebih jujur.

Bahasa yang tidak kaku seperti jargon politik. Tidak jauh seperti pidato pejabat. Dan tidak sunyi seperti ruang formal yang jarang mendengar.

Ketika simbol berubah menjadi suara

Begitu bendera itu terangkat, suara massa ikut meninggi. Ada yang bersorak, ada yang tertawa, dan ada yang tampak berkaca-kaca. Simbol itu membawa ruang aman yang tidak terduga, ruang tempat anak muda merasa terlihat walau hanya oleh tokoh fiksi.

Ironisnya, justru itu yang membuatnya kuat. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka merasa punya sesuatu yang mewakili harapan mereka. Bukan lembaga, bukan elite, tetapi sebuah simbol yang selama ini hanya menemani malam-malam sepi di depan layar.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Ada pesan yang seharusnya tidak diabaikan oleh para pemegang kuasa. Ketika simbol fiksi lebih dipercaya publik dibanding institusi nyata, itu bukan tren budaya pop belaka. Itu peringatan.

Karena di balik arak-arakan itu, tersimpan tanda bahwa: kepercayaan publik sedang retak, anak muda sedang mencari cara agar didengar, dan protes mereka lahir dari keresahan yang nyata.

Gerakan ini mungkin berubah bentuk. Bendera ini mungkin tidak selalu hadir di setiap aksi. Namun ia sudah menandai satu hal penting: Gen Z telah menemukan cara bicara yang tidak bisa dipadamkan oleh ketakutan atau formalitas.

Selama ketidakadilan masih tumbuh, selama dialog tetap tertutup, simbol seperti bendera Topi Jerami akan terus berkibar, memanggil siapa pun yang masih percaya bahwa masa depan bisa diperbaiki.

Di tengah riuh itu, seorang pemuda berteriak:

“Kalau bukan kami, siapa lagi?”

Mungkin itu bukan sekadar teriakan. Mungkin itu adalah undangan, untuk ikut berlayar menuju masa depan yang mereka impikan.

Berita Terkait

Saat Akses Kesehatan Terbatas, Ambulans BRI Jadi Penopang Warga Lumbang
Kukuh dan Warung Nasi Goreng yang Tumbuh dari KUR BRI
Hampir 10 Tahun Bermitra dengan BRI, Dwi Astuti Layani Kebutuhan Transaksi Warga
Satu Dasawarsa Berjalan, Pengajian Rutin BRI Region 13 Malang Jadi Ruang Seimbangkan Kerja dan Ibadah
Tawaran Investasi Berimbal Hasil Tinggi Muncul, BRI Batu Minta Masyarakat Tak Gegabah
Jangan Cuma Lihat Keuntungan, BRI Batu Ingatkan Risiko di Balik Tawaran Investasi
Jangan Asal Transfer karena Janji Cuan, BRI Malang Soekarno Hatta Ingatkan Cek Legalitas Investasi
Berawal dari 1.500 Ayam, Peternakan Edi di Tulungagung Tumbuh Setelah Diperkuat KUR BRI

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 08:17 WIB

Saat Akses Kesehatan Terbatas, Ambulans BRI Jadi Penopang Warga Lumbang

Rabu, 9 September 2026 - 12:24 WIB

Kukuh dan Warung Nasi Goreng yang Tumbuh dari KUR BRI

Sabtu, 5 September 2026 - 09:54 WIB

Hampir 10 Tahun Bermitra dengan BRI, Dwi Astuti Layani Kebutuhan Transaksi Warga

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Tawaran Investasi Berimbal Hasil Tinggi Muncul, BRI Batu Minta Masyarakat Tak Gegabah

Senin, 31 Agustus 2026 - 17:03 WIB

Jangan Cuma Lihat Keuntungan, BRI Batu Ingatkan Risiko di Balik Tawaran Investasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Jangan Asal Transfer karena Janji Cuan, BRI Malang Soekarno Hatta Ingatkan Cek Legalitas Investasi

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:02 WIB

Berawal dari 1.500 Ayam, Peternakan Edi di Tulungagung Tumbuh Setelah Diperkuat KUR BRI

Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:35 WIB

BRI Malang Sutoyo Dorong Masyarakat Lebih Cerdas Memilih Investasi, Jangan Hanya Kejar Cuan

Berita Terbaru

Berita

Kukuh dan Warung Nasi Goreng yang Tumbuh dari KUR BRI

Rabu, 9 Sep 2026 - 12:24 WIB